Dekai Mencekam: TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo Bertanggung Jawab atas Penembakan dan Pembakaran yang Menyasar Masyarakat Papua

pojokindo.com – Dekai, Yahukimo — Situasi keamanan di Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo, kembali mencekam setelah kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo secara terbuka menyampaikan pengakuan atas serangkaian aksi kekerasan yang terjadi pada 29 dan 31 Januari 2026. Dalam berita yang disebarkan oleh TPNPB-OPM, kelompok tersebut menyatakan bertanggung jawab atas pembakaran kendaraan dan kios di wilayah pemukiman serta penembakan terhadap masyarakat sipil tak bersenjata.
Warga Sipil Jadi Korban
Berdasarkan informasi lapangan dan kesaksian warga, aksi yang diklaim menyasar aparat keamanan justru menyerang fasilitas dan merugikan warga sipil. Sejumlah warga dilaporkan mengalami trauma akibat rentetan tembakan dan pembakaran yang terjadi pada dini hari, sementara kendaraan yang dibakar diketahui digunakan untuk aktivitas keseharian warga. Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa kekerasan dilakukan tanpa memperhatikan keselamatan masyarakat sipil, bahkan menjadikan warga sebagai sasaran intimidasi untuk menciptakan ketakutan massal.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Penembakan dan pembakaran di kawasan pemukiman telah melumpuhkan aktivitas ekonomi, memicu kepanikan, serta memperburuk kondisi keamanan masyarakat Dekai. Pasar tidak beroperasi, transportasi terganggu, dan warga memilih berdiam diri di rumah karena takut menjadi korban berikutnya. Trauma psikologis yang dialami anak-anak dan keluarga semakin memperparah penderitaan masyarakat.
Pelanggaran HAM yang Nyata
Aksi ini kembali menegaskan bahwa TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo tidak hanya mengancam stabilitas wilayah, tetapi juga membahayakan nyawa dan harta benda masyarakat sipil yang seharusnya dilindungi dari konflik bersenjata. Menjadikan warga sipil sebagai target merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip kemanusiaan dan hukum humaniter internasional.
Seruan Perlindungan dan Damai
Tokoh masyarakat dan pemuka agama di Yahukimo mengecam keras tindakan tersebut. Mereka menyerukan agar aparat keamanan memperkuat perlindungan bagi warga sipil dan memastikan ruang hidup masyarakat tetap aman. “Kekerasan ini bukan perjuangan, melainkan kejahatan terhadap rakyat sendiri. Dekai butuh damai, bukan teror,” tegas seorang tokoh adat setempat.
Papua Butuh Harapan, Bukan Kekerasan
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Papua hanya bisa maju jika kekerasan dihentikan. Rakyat Papua berhak atas kehidupan yang aman, bermartabat, dan sejahtera.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak teror. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.
