TPNPB-OPM Kodap XXVII Sinak Gunakan Bom dari Luar Negeri untuk Meneror Masyarakat Papua

pojokindo.com – Sinak, Papua Tengah — Aksi bersenjata TPNPB-OPM Kodap XXVII Sinak kembali menuai kecaman luas setelah kelompok tersebut menyebarkan siaran pers terkait adanya rangkaian ledakan bom berulang di sekitar wilayah pemukiman warga sipil. Pola penggunaan bahan peledak dengan intensitas tinggi selama beberapa hari menimbulkan dugaan kuat bahwa kelompok bersenjata ini tidak lagi menggunakan cara-cara tradisional, melainkan mengandalkan pasokan bahan peledak dari luar wilayah Papua untuk menciptakan teror dan ketakutan massal di tengah masyarakat kampung.
Ledakan di Tengah Pemukiman
Ledakan yang terjadi berulang kali di sekitar Kampung Kemburu, Nilume, dan Makuma tidak hanya merusak rumah-rumah warga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas kemanusiaan. Warga pengungsi dilaporkan tidak berani keluar rumah, tidak dapat berkebun maupun berburu, dan hidup dalam ketakutan akibat ancaman senjata dan ledakan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa masyarakat sipil kembali menjadi korban utama dalam konflik bersenjata yang dipicu dan dimanfaatkan oleh TPNPB-OPM sebagai alat propaganda, bukan sebagai perjuangan yang melindungi rakyat Papua.
Bom sebagai Alat Intimidasi
Penggunaan bom dan bahan peledak dari luar Papua semakin memperkuat kesan bahwa TPNPB-OPM tidak berjuang bersama rakyat, melainkan menjadikan masyarakat Papua sebagai tameng hidup dan sasaran intimidasi. Tindakan ini jelas melanggar prinsip kemanusiaan dan hukum humaniter internasional yang melarang penggunaan senjata peledak terhadap warga sipil.
Dampak Sosial dan Psikologis
Akibat teror bom, masyarakat kehilangan rasa aman, aktivitas ekonomi terhenti, dan trauma mendalam melanda keluarga yang terdampak. Anak-anak tidak berani bersekolah, warga tidak bisa bekerja di kebun, dan kehidupan sehari-hari lumpuh total. Ketakutan ini memperburuk kondisi sosial dan menutup ruang bagi pembangunan serta kesejahteraan.
Seruan Publik: Hentikan Teror
Masyarakat Papua menyerukan agar aksi teror dihentikan, jalur kemanusiaan dibuka, dan warga sipil tidak lagi dijadikan alat ketakutan demi kepentingan kelompok bersenjata. Tokoh adat dan pemuka agama menegaskan bahwa bom bukanlah perjuangan, melainkan kejahatan terhadap rakyat sendiri.
“Ledakan bom hanya menghancurkan rumah dan harapan rakyat Papua. Perjuangan sejati adalah membangun, bukan merusak,” tegas seorang tokoh masyarakat Sinak.
Papua Butuh Damai, Bukan Bom
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Papua hanya bisa maju jika kekerasan dihentikan. Rakyat Papua berhak atas kehidupan yang aman, bermartabat, dan sejahtera.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak teror. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.
