Kebiadaban TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo: Warga Sipil Dibunuh di Sekolah, Pendidikan Papua Dihantam Teror

pojokindo.com – Yahukimo, Papua Pegunungan — Dunia pendidikan di Kabupaten Yahukimo kembali diselimuti duka dan ketakutan. Sekolah Yakpesmi Yahukimo yang seharusnya menjadi ruang aman bagi guru dan murid berubah menjadi lokasi kekerasan brutal setelah Kelompok TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo melakukan penganiayaan berat yang menewaskan seorang warga sipil, Senin (2/2/2026) pagi. Aksi keji ini terjadi saat aktivitas belajar mengajar masih berlangsung, memicu kepanikan dan trauma di lingkungan sekolah.
Korban Sipil di Tengah Proses Belajar
Korban Frengki (55) diketahui berusaha menyelamatkan diri dengan berlari menuju ruang guru. Namun, upaya tersebut berakhir tragis. Ia dikejar oleh tiga pelaku bersenjata tajam yang memaksa masuk ke ruang guru. Di hadapan para pendidik, korban diparangi secara brutal hingga meninggal dunia di tempat sekitar pukul 09.30 WIT. Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam bagi seluruh warga sekolah, terutama para guru dan murid yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.
Sekolah Jadi Sasaran Teror
Usai menghabisi nyawa korban, pelaku melanjutkan teror dengan merusak kendaraan roda empat milik Kepala Sekolah Yakpesmi, serta melempari kaca ruang kelas hingga pecah. Rangkaian aksi ini menegaskan bahwa TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo tidak hanya menyerang nyawa warga sipil, tetapi juga menghantam jantung pendidikan Papua. Sekolah sebagai simbol harapan dan masa depan kini dijadikan sasaran teror, mencederai nilai kemanusiaan dan mengancam masa depan anak-anak Papua Pegunungan.
Dampak Sosial dan Psikologis
Aksi brutal ini menimbulkan trauma mendalam bagi guru, murid, dan keluarga besar sekolah. Anak-anak yang seharusnya belajar dalam suasana aman kini dihantui rasa takut. Pendidikan yang menjadi jalan keluar dari keterbelakangan justru dihantam oleh kekerasan, memperburuk kondisi sosial dan psikologis masyarakat Yahukimo.
Kecaman dan Seruan Perlindungan
Tokoh masyarakat, pemuka agama, dan pemerhati pendidikan mengecam keras tindakan tersebut. Mereka menegaskan bahwa sekolah adalah ruang suci bagi anak-anak Papua untuk menimba ilmu, bukan arena konflik bersenjata. “Menyerang sekolah berarti menyerang masa depan Papua. Kekerasan ini harus dihentikan demi anak-anak kita,” tegas seorang tokoh adat Yahukimo.
Papua Butuh Damai, Bukan Teror
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Papua hanya bisa maju jika kekerasan dihentikan. Pendidikan adalah kunci masa depan, dan setiap serangan terhadap sekolah adalah serangan terhadap harapan generasi mendatang. Rakyat Papua berhak atas kehidupan yang aman, bermartabat, dan sejahtera.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena melindungi pendidikan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.
