Paus Fransiskus dan Misi Kemanusiaan ke Indonesia, Momen Bersejarah bagi Umat Katolik di Papua
JAYAPURA, POJOKINDO.com – Kunjungan Paus Fransiskus ke Vanimo, Provinsi West Sepik, Papua Nugini, pada 8 September 2024, menjadi momen bersejarah bagi komunitas Melanesia, termasuk di West Papua.
Kunjungan ini menandai 180 tahun sejak Tahta Suci Vatikan mengeluarkan dokumen penting yang menentukan nasib gereja di kawasan Melanesia dan Mikronesia.
Pada 19 Juli 1844, Paus Gregorius XVI mengeluarkan dokumen “Ex debbito Pastoralis,” yang membentuk Vikariat Mikronesia dan Melanesia. Kedua vikariat ini mencakup wilayah yang meliputi Papua dan sejumlah pulau lainnya. Sejak saat itu, pengaruh gereja Katolik di kawasan ini terus berkembang.
Yan Ukago, Ketua Tim Kerja Dapur Harapan Papua, menjelaskan bahwa West Papua secara historis merupakan bagian integral dari Melanesia. Namun, dalam administrasi pemerintahan, wilayah ini telah menjadi bagian dari Indonesia selama 60 tahun terakhir dan kini terdiri dari enam Daerah Otonomi Baru (DOB).
“Kehadiran Sri Paus ini merupakan lanjutan dari kebijakan misionaris sebelumnya. Salah satu tokoh misionaris sentral adalah Cornelis Le Cocq d’Armandville, yang memulai misinya di Papua pada akhir abad ke-19. Keberadaan Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) juga sangat berperan dalam penyebaran iman di wilayah Papua,” kata Ukago.
Ukago menambahkan bahwa misionaris MSC mulai aktif di Merauke pada 1905 dan memperluas karya mereka ke berbagai daerah di Papua. Pada 1937, komunitas Fransiskan dari Belanda mulai melayani di bagian utara Nueva Guinea, dan Ordo Santo Agustinus (OSA) serta Ordo Salib Suci (OSA) juga berkontribusi dalam pengembangan misi di wilayah Papua.
Sekretaris Tim Kerja Dapur Harapan Papua, Soleman Itlay, menyatakan bahwa kunjungan Paus Fransiskus merupakan bagian dari rencana ilahi. “Kunjungan ini bukan hanya kunjungan apostolik semata, tetapi juga untuk memperkuat iman dan harapan umat Katolik di Papua. Banyak umat yang menantikan kesempatan ini untuk menerima berkat dari dekat,” ungkap Itlay.
Meski demikian, beberapa umat merasa kecewa karena keterbatasan akses informasi dan biaya untuk membuat paspor dan visa.
“Kami berharap pemerintah dapat mempertimbangkan doa dan harapan umat untuk melihat Paus dari dekat. Kunjungan ini diharapkan dapat memulihkan semangat iman dan membawa kedamaian di tengah ancaman pemanasan global,” tambah Itlay.
Dengan jarak sekitar 97 km dari Kota Jayapura ke Vanimo, perjalanan untuk menyaksikan kunjungan Paus Fransiskus terbilang singkat, namun aksesnya terbatas bagi sebagian umat. “Kami berharap kunjungan ini membawa dampak positif dan memperkuat iman umat Katolik di Papua,” tutupnya. Kunjungan Paus Fransiskus diharapkan menjadi momen bersejarah yang memperkaya iman dan memperkuat hubungan spiritual antara umat Katolik di Papua dan Tahta Suci. (ka)

