Akademisi Universitas Cenderawasih, Marinus Yaung: Ancaman HIV/AIDS Makin Tinggi, Kepala Daerah di Pegunungan Papua Diminta Segera Bertobat
JAYAPURA, POJOKINDO.com – Tingginya kasus HIV/AIDS di wilayah Provinsi Papua pegunungan jadi perhatian serius bagi para kepala daerah, gereja, dan masyarakat.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Cenderawasih (Uncen), Marinus Yaung, mendorong kepala daerah di Papua Pegunungan dan Papua Tengah mengambil langkah cepat dan konsisten dalam penanganan kasus HIV/IADS.
“Saya berharap pejabat Papua, secara khusus para bupati di wilayah Pegunungan Papua harus melihat ini sebagai ancaman serius terhadap kemanusian,” katanya kepada Pojokindo.com, melalui pesan singkat, Senin (30/10/2023).
Penyakit HIV/AIDS mengancam populasi masyarakat asli Papua, khususnya di wilayah pegunungan.
“Kalau tidak ditanganis serius, maka habis dan punah masyarakat asli Papua,” katanya.
Marinus menyarankan pemerintah menerapkan cara Presiden Uganda, Yoweri Museveni dalam menangani kasus HIV di negaranya.
“Kita tahu bahwa asal mula penyakit AIDS ini dari Uganda. Virus HIV ditemukan pertama kali dalam tubuh seorang tentara khusus presiden Uganda, Idi Amin, yang meninggal dunia dengan penyakit ini tahun 1974,” katanya.
Marinus menuturkan, setelah peristiwa itu, AIDS dengan cepat menular di Uganda.
WHO memperkirahkan 90 persen orang Uganda akan musnah menjelang milenium baru tahun 2000.
“Apa yang dilakukan Presiden Uganda Yoweri Museveni? Malam tahun baru 31 Desember 1999, di stadion nasional Kampala, Ibu Kota Uganda, Presiden Museveni bersama istrinya dan rakyat Uganda bertobat dan menyerahkan Uganda kepada Tuhan Yesus,” katanya.
Presiden dan rakyat Uganda melakukan seperti yang dilakukan Raja Niniwe ketika nabi Yunus datang menyampaikan pesan pertobatan buat bangsa Niniwe.
“Saya pikir Papua, khususnya masyarakat di wilayah pegunungan bisa diselamatkan dari ancaman kemusnahan AIDS jika para Bupati dan Gubernur takut Tuhan, lalu memimpin gerakan pertobatan massal di tengah masyarakat Papua,” katanya.
Selain itu, ia juga meminta para bupati harus serius mengawasi obat ARV yang dikonsumsi para ODHA.
“Jangan sampai mereka putus konsumsi ARV,” katanya.
Sekadar diketahui, Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Papua Pegunungan mencatat total 9.923 kasus HIV/AIDS pada 8 kabupaten di wilayahnya.
Sebanyak 709 penderita HIV dinyatakan meninggal dunia, menurutt data per 30 Juni 2023. (Khoirul Anam)

