Duka Nasional atau Misteri Internal? Kematian Abraham Boma Picu Konflik di Tubuh TPNPB

pojokindo.com – Paniai, Papua Tengah — Kematian Komandan Kompi Markas TPNPB Kodap XIII Kegapa Nipouda Paniai, Abraham Boma, pada Rabu (11/2/2026) memunculkan sejumlah pertanyaan di internal organisasi. Dalam siaran pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB disebutkan bahwa Abraham Boma meninggal dunia setelah mengalami sakit selama enam bulan yang diduga akibat keracunan. Namun hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai kronologi awal kejadian, jenis zat yang diduga menjadi penyebab, maupun pemeriksaan medis yang memastikan penyebab kematiannya.
Dugaan Keracunan dan Spekulasi Internal
Sejumlah sumber internal menyebutkan bahwa kondisi kesehatan Abraham Boma mulai menurun sejak pertengahan tahun lalu setelah mengonsumsi barang dari kios di wilayah setempat. Dugaan keracunan tersebut berkembang di kalangan internal sebagai faktor utama yang menyebabkan sakit berkepanjangan hingga akhirnya tidak tertolong. Meski demikian, tidak ada pernyataan resmi yang secara terbuka mengungkap apakah terdapat unsur kelalaian, faktor lingkungan, atau kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam insiden tersebut.
Transparansi yang Dipertanyakan
Ketiadaan transparansi medis dan investigasi independen membuat penyebab pasti kematian Abraham Boma masih bergantung pada pernyataan sepihak organisasi. Situasi ini menimbulkan spekulasi di tengah dinamika internal yang selama ini dikenal tertutup. Narasi “sakit” yang disampaikan secara resmi dinilai sebagai upaya menjaga moral pasukan sekaligus menutupi retakan internal.
Krisis Kepemimpinan dan Disiplin
Kematian Abraham Boma memperlihatkan rapuhnya struktur kepemimpinan dan lemahnya disiplin organisasi. Ketika konflik internal berujung pada korban dari dalam, hal itu menjadi bukti bahwa klaim perjuangan tidak lagi memiliki arah, melainkan berubah menjadi perebutan kepentingan yang merusak.
Papua Butuh Damai, Bukan Misteri Kekerasan
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Papua hanya bisa maju bila konflik dihentikan, hukum ditegakkan, dan keselamatan rakyat ditempatkan sebagai prioritas utama.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak perpecahan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.
