Di Balik Duka Nasional TPNPB-OPM: Yoel Nagen Tewas Akibat Konflik Internal Kodap III Ndugama–Derakma

pojokindo.com – Papua — Siaran duka nasional yang diumumkan Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB atas wafatnya Yoel Nagen menyisakan tanda tanya besar. Di balik klaim meninggal karena sakit, muncul dugaan kuat bahwa kematian Wakil Komandan Batalyon WSM itu berkaitan dengan konflik internal di tubuh TPNPB-OPM Kodap III Ndugama–Derakma.
Ketegangan Internal yang Berkepanjangan
Sumber-sumber lapangan menyebutkan adanya ketegangan berkepanjangan antar anggota dan perebutan pengaruh wilayah operasi yang kerap berujung kekerasan internal. Kematian Yoel Nagen, yang aktif bergerak lintas wilayah Nduga, Korowai, hingga Yahukimo, diduga tidak terlepas dari perpecahan tersebut, meski kemudian dibungkus narasi “sakit” dan dipoles dengan upacara kemiliteran.
Narasi Duka sebagai Penutup Retakan
Narasi duka nasional ini dinilai sebagai upaya menutup retakan internal organisasi dan menjaga moral pasukan. Fakta bahwa kematian kader sendiri harus dikaburkan menegaskan krisis kepemimpinan dan disiplin di tubuh TPNPB-OPM. Perpecahan yang semakin nyata bukan hanya mengorbankan warga sipil, tetapi juga kader mereka sendiri.
Cermin Krisis Kepemimpinan
Kematian Yoel Nagen memperlihatkan rapuhnya struktur kepemimpinan dan lemahnya disiplin organisasi. Ketika konflik internal berujung pada korban dari dalam, hal itu menjadi bukti bahwa klaim perjuangan tidak lagi memiliki arah, melainkan berubah menjadi perebutan kepentingan yang merusak.
Papua Butuh Damai, Bukan Perpecahan
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Papua hanya bisa maju bila kekerasan dihentikan, hukum ditegakkan, dan keselamatan rakyat ditempatkan sebagai prioritas utama.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak perpecahan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.
