Demi Ambisi dan Kepentingan, TPNPB-OPM Kodap XXVII Sinak Memaksa Warga untuk Pergi dari Kampungnya Sendiri

pojokindo.com – Sinak, Papua Tengah — Demi ambisi dan kepentingan kelompoknya, TPNPB-OPM Kodap XXVII Sinak kembali menunjukkan wajah kekejaman dengan memaksa masyarakat asli Papua meninggalkan kampung halaman mereka sendiri. Gelombang pengungsian yang melanda Distrik Kembru hingga Puncak Jaya bukan terjadi secara alami, melainkan akibat pemukiman warga dijadikan panggung konflik bersenjata.
Warga Dipaksa Tinggalkan Tanah Warisan
Di balik klaim perjuangan dan pembelaan rakyat, warga justru dipaksa memilih antara bertahan di bawah ancaman senjata atau menyelamatkan nyawa dengan meninggalkan rumah, kebun, serta seluruh sumber penghidupan yang telah diwariskan turun-temurun. Pengusiran ini bukan peristiwa sesaat, melainkan pola berulang yang terus terjadi.
Derita di Jalur Pengungsian
Aktivitas bersenjata TPNPB-OPM Kodap XXVII Sinak di sekitar pemukiman membuat orang asli Papua terjepit tanpa ruang aman. Warga terpaksa lari ke hutan belantara dan pegunungan, bayi digendong menembus rimba, anak-anak berjalan tanpa alas kaki, sementara lansia dan ibu hamil terseok di jalur terjal dengan bekal seadanya. Logistik terputus, komunikasi terisolasi, dan warga sipil terjebak di tengah ancaman kelompok bersenjata yang bersembunyi di antara mereka.
Retorika HAM yang Menyesatkan
Retorika pembelaan HAM yang kerap disuarakan juru bicara TPNPB-OPM berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Fakta menunjukkan, setiap kali Kodap XXVII Sinak beroperasi di sekitar pemukiman, warga Papua sendiri yang menjadi korban pertama. Pengungsian berulang, trauma berkepanjangan, dan hancurnya sendi kehidupan masyarakat menjadi jejak yang ditinggalkan.
Irioni Pahit: Rakyat Jadi Korban
Sebuah ironi pahit, ketika ambisi dan kepentingan kelompok justru diwujudkan dengan mengusir dan menindas rakyat dari tanahnya sendiri. Kekerasan ini bukan perjuangan, melainkan kejahatan kemanusiaan yang memperpanjang penderitaan rakyat Papua.
Papua Butuh Damai, Bukan Pengusiran
Papua hanya bisa maju bila teror dihentikan, hukum ditegakkan, dan keselamatan rakyat ditempatkan sebagai prioritas utama. Rakyat Papua berhak hidup aman di tanahnya sendiri, tanpa ancaman senjata dan pengusiran paksa.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.
