Pangdam XVII Cenderawasih: Kericuhan di Jayapura Diskenariokan Pihak Tertentu
JAYAPURA, POJOKINDO.com – Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Izak Pangemanan menyebut bahwa dari proses pengantaran jenazah almarhum Lukas Enembe ke Koya Tengah diyakini ada kelompok penyusup yang bergabung dengan massa dan kemudian melakukan pengrusakan serta penganiayaan.
Pasalnya ia melihat ada upaya untuk menciptakan konflik horizontal. Jika ini tak disikapi secara bijak maka diyakini Jayapura dalam bahaya. Ada kelompok yang dikatakan sengaja ingin menciptakan agar Papua bisa “menyala” layaknya tahun 2019 lalu.
“Karena itulah saya mengundang teman-teman pimpinan paguyuban di Jayapura untuk sama – sama dibahas. Ada upaya untuk menciptakan konflik dan caranya adalah mengadu domba,” kata Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Izak Pangemanan di Makodam XVII/Cenderawasih, Jumat (29/12/2023).
Cara untuk mengadu domba ini dikatakan cukup mudah, hanya membuat warga emosi dengan serangkaian insiden kemudian terjadi balasan dan di situlah konflik akan tercipta.
Ia bahkan berani menyebut bahwa kelompok tersebut berasal dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) yang melakukan pembakaran beberapa bangunan, kendaraan termasuk memancing emosi warga lain dengan melakukan pemukulan terhadap Pj Gubernur Papua Ridwan Rumasukun.
“Memang ada upaya provokasi tapi kami pastikan itu tidak berhasil. Ada yang menginginkan terjadi konflik dan itu sudah kami analisa,” tegasnya.
“Jadi kalau terpancing dan akhirnya terjadi konflik maka di situlah tujuan mereka tercapai. Saya berharap teman-teman paguyuban bisa memahami ini dengan sama-sama ikut menjaga Kota Jayapura. Kita perlu memproteksi diri dengan tetap menjaga lingkungan tempat kita tinggal tapi jangan terpancing,” tegasnya.
Pangdam menegaskan bahwa pihaknya akan membackup Polri untuk mengungkap satu persatu pelaku keributan terlebih yang melakukan penganiayaan terhadap Pj Gubernur Rumasukun. Untuk selanjutnya diambil tindakan hukum sesuai aturan. Termasuk yang lakukan pemukulan aparat keamanan akan mengusut untuk ditindak secara hukum termasuk pembakaran dan pemukulan anggota TNI-Polri.
Lalu di sini Pangdam juga menyatakan bahwa publik perlu memahami bahwa yang namanya Papua merdeka itu tidak ada.
PBB sudah menutup dekolonisasi Papua pada 1 Mei 1963 dan ini sudah terkonfirmasi.
“Jadi ini omong kosong semua yang sengaja dijual oleh para elit untuk kepentingan sendiri. Ini sengaja dihembuskan oleh mereka yang lagi di luar dibantu dengan mereka yang di dalam. Sekali lagi itu omong kosong, itu agar bisa mengambil keuntungan dari dukungan masyarakat demi kepentingan pribadi,” singgungnya.
Iapun menjelaskan alasan mengundang pimpinan paguyuban di Jayapura yakni untuk menciptakan rasa aman untuk kota. Ia melihat sempat terjadi ketegangan dan ada pergerakan dari masyarakat nusantara namun semua diyakini adalah bentuk spontanitas untuk mengamankan aset.
“Jadi bukan sudah diorganisir. Ini dilakukan akibat trauma kejadian lalu lalu dimana mereka selalu menjadi korban ketika ada aksi massa. Saya pikir jika di sini tanah beradab maka mari hargai nilai – nilai itu,” tutupnya.
Disini Pangdam juga meminta masyarakat nusantara untuk tetap tenang, sebab TNI-Polri masih mengendalikan situasi. “Jika terpancing maka di situ tujuan para pelaku kerusuhan ini tercapai. Mereka memang menginginkan itu terjadi,” imbuhnya. (*)

