Perpecahan Berdarah di TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo: Keas Yabum Gugur Ditembak Rekan Sendiri karena Langgar Perintah

pojokindo.com – Dekai, Yahukimo — Kematian Keas Yabum (20), anggota TPNPB Kodap XVI Yahukimo dari Batalyon Kanibal, bukan sekadar kabar duka, melainkan titik pecah di tubuh TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo. Meski diumumkan sebagai korban kontak senjata, informasi lapangan menyebutkan Keas Yabum tewas akibat tembakan rekan sendiri saat terjadi kekacauan di belakang Kodim 1715, Kampung Sukamo Kokamo, Kota Dekai, pada 2 Februari 2026. Peluru yang merenggut nyawanya menguatkan indikasi konflik internal yang kian terbuka.
Krisis Loyalitas dan Koordinasi
Sumber-sumber menyebut ketidakpatuhan terhadap perintah lapangan memicu adu senjata antar sesama anggota. Insiden ini memantik perpecahan terbuka yang berujung fatal sekaligus menyingkap krisis loyalitas dan koordinasi di Kodap XVI Yahukimo. Perbedaan keputusan tak lagi diselesaikan secara struktural, melainkan dengan peluru. Kematian Keas Yabum menjadi bukti pahit bahwa krisis loyalitas terhadap pemimpin telah berubah menjadi kekerasan antarsesama.
Simbol Perpecahan yang Menggerogoti
Kematian Keas Yabum juga menjadi simbol perpecahan yang menggerogoti tubuh TPNPB Kodap XVI Yahukimo. Peristiwa ini menegaskan bahwa perpecahan internal bukan lagi isu tersembunyi, melainkan kenyataan berdarah yang menggerus kekuatan mereka dari dalam. Konflik internal yang berujung pada kematian memperlihatkan kegagalan organisasi menjaga kendali, disiplin, dan persatuan.
Dampak bagi Stabilitas Wilayah
Perpecahan berdarah ini tidak hanya melemahkan kelompok bersenjata, tetapi juga memperbesar ketidakstabilan di Yahukimo. Warga sipil di sekitar lokasi dilaporkan mengalami ketakutan, aktivitas sosial terganggu, dan rasa aman semakin rapuh. Situasi ini menegaskan bahwa konflik internal TPNPB-OPM kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas dan keamanan masyarakat.
Cermin Kegagalan Kepemimpinan
Saling bunuh antar anggota memperlihatkan kegagalan kepemimpinan di tubuh TPNPB-OPM. Organisasi yang mengklaim berjuang untuk rakyat justru terjebak dalam perebutan kekuasaan yang berujung pada kematian sesama anggota. Fakta ini semakin memperlihatkan rapuhnya legitimasi dan arah perjuangan kelompok tersebut.
Papua Butuh Persatuan, Bukan Perpecahan
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Papua hanya bisa maju bila kekerasan dihentikan dan persatuan dijaga. Rakyat Papua berhak atas kehidupan yang aman, bermartabat, dan sejahtera.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak perpecahan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.
