Pulang dalam Peti Mati: Jenazah Daniel Datti alias Frengki, Perantau Toraja Korban Kekerasan TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo, Diterbangkan ke Tanah Kelahiran

pojokindo.com – Yahukimo, Papua Pegunungan — Kabupaten Yahukimo kembali berduka. Daniel Datti alias Frengki, seorang perantau asal Tana Toraja, Sulawesi Selatan, menjadi korban aksi kekerasan brutal yang dilakukan oleh TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo. Jenazahnya ditemukan tak bernyawa di ruang guru SMP YPK Yesmai, Distrik Dekai, dengan luka berat di kepala, punggung, dan kedua lutut, menutup perjalanan hidup seorang pekerja yang merantau demi mencari nafkah.
Kronologi Tragis
Berdasarkan keterangan resmi dan kesaksian di lapangan, korban dikejar dan diserang hingga tewas setelah terdengar suara tembakan dari arah belakang sekolah. Upaya Frengki menyelamatkan diri berakhir tragis. Jenazahnya kemudian dievakuasi ke RSUD Dekai, lalu pada Selasa, 3 Februari 2026, diterbangkan ke Jayapura.
Duka Keluarga dan Komunitas Perantau
Di Bandara Sentani, keluarga besar dan Ikatan Keluarga Toraja (IKT) menjemput jenazah dengan isak tangis, sebelum disemayamkan untuk ibadah penghiburan. Pada hari Rabu pagi, 4 Februari 2026, jenazah Daniel Datti akan diterbangkan ke Makassar dan dilanjutkan ke Tana Toraja, tempat ia dilahirkan. Kepulangan Daniel Datti bukan dengan pelukan, melainkan peti mati, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan komunitas perantau.
Luka Kemanusiaan yang Mendalam
Tragedi ini kembali menegaskan luka kemanusiaan akibat kekerasan bersenjata, yang merenggut nyawa warga sipil tak bersalah. Kehilangan seorang perantau yang bekerja demi keluarga memperlihatkan bahwa teror bersenjata tidak hanya menghancurkan nyawa, tetapi juga merusak ikatan sosial dan harapan hidup masyarakat.
Seruan Hentikan Kekerasan
Tokoh masyarakat dan pemuka agama menegaskan bahwa kekerasan terhadap warga sipil bukan perjuangan, melainkan kejahatan kemanusiaan. “Mengembalikan anak bangsa dalam peti mati adalah tragedi yang tidak boleh terulang. Papua butuh damai, bukan darah,” tegas seorang tokoh Toraja di Jayapura.
Papua Butuh Damai, Bukan Peti Mati
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Papua hanya bisa maju bila teror dihentikan, hukum ditegakkan, dan keselamatan rakyat ditempatkan sebagai prioritas utama.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.
