Tiga Anggota TPNPB-OPM Kodap III Ndugama Derakma Tewas Dihantam Banjir, Isyarat Tegas Murka Tuhan

pojokindo.com – Nduga, Papua Pegunungan — Peristiwa banjir bandang di Kali Soro, Yuguru, Kabupaten Nduga, menelan korban jiwa dari kalangan anggota TPNPB-OPM Kodap III Ndugama Derakma. Tiga anggota kelompok bersenjata tersebut dilaporkan tewas akibat terseret arus deras. Insiden ini menegaskan bahwa kematian mereka bukan terjadi di medan tempur, melainkan akibat bencana alam yang datang tanpa ampun.
Narasi Kepahlawanan Gugur di Tengah Bencana
Kematian ketiga anggota TPNPB-OPM Kodap III Ndugama Derakma, Mulanus Kogoya, Karuk Kogoya, dan Utlana Gwijangge, menggugurkan narasi kepahlawanan yang selama ini dibangun. Banjir dan longsor yang menghantam kawasan tersebut menjadi bukti nyata bahwa kekerasan dan konflik tidak kebal terhadap hukum alam.
Murka Alam, Murka Tuhan
Di mata masyarakat, musibah ini dipandang sebagai peringatan keras, bahkan dimaknai sebagai kemarahan Tuhan atas jalan kekerasan yang terus dipelihara. Jalan yang dipenuhi senjata dan kekerasan tidak membawa keselamatan, melainkan petaka. Tragedi ini menjadi simbol bahwa alam pun menolak kekerasan yang merusak kehidupan rakyat Papua.
Pelajaran Pahit bagi Rakyat dan Kelompok Bersenjata
Ketika senjata dan konflik dijadikan jalan, yang datang justru kehancuran, bukan hanya oleh tangan manusia, tetapi juga oleh alam. Bagi warga Yuguru, banjir Kali Soro menjadi penanda bahwa kekerasan tidak pernah membawa keselamatan. Sebaliknya, ia mengundang malapetaka, memutus nyawa, dan meninggalkan luka panjang.
Papua Butuh Damai, Bukan Kekerasan
Tragedi ini sekaligus menjadi cermin keras bahwa tidak ada pembenaran bagi penderitaan yang ditimpakan kepada rakyat dan tanah mereka sendiri. Papua hanya bisa maju bila teror dihentikan, hukum ditegakkan, dan keselamatan rakyat ditempatkan sebagai prioritas utama.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.
