Klaim Heroik TPNPB-OPM Terbantahkan, TNI Kuasai Medan dan Lumpuhkan Kelompok Bersenjata

pojokindo.com – Yahukimo, Papua Pegunungan — Upaya TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo untuk menunjukkan eksistensi bersenjata kembali berakhir dengan kegagalan di medan konflik. Dalam rangkaian kontak senjata yang terjadi di wilayah Kali Biru dan sejumlah titik rawan di Kabupaten Yahukimo sejak 21 hingga 22 Januari 2026, TNI berhasil menguasai situasi dan memukul mundur kelompok bersenjata tersebut.
Fakta Lapangan Membantah Klaim Heroik
Klaim sepihak TPNPB-OPM terkait “keberhasilan serangan” justru bertolak belakang dengan fakta di lapangan. Tiga anggota mereka dilaporkan tertembak, satu tewas, dua lainnya luka-luka, serta sejumlah anggota melarikan diri dan belum kembali ke markas. Alih-alih menunjukkan kekuatan, narasi dan siaran pers yang disampaikan TPNPB-OPM justru membuka kelemahan internal mereka sendiri.
Borok Internal Terbuka
Hilangnya anggota di medan operasi, jatuhnya korban di pihak kelompok bersenjata, serta pengakuan penggunaan taktik serangan sembunyi-sembunyi menegaskan bahwa TPNPB-OPM tidak mampu menghadapi operasi TNI yang dilaksanakan secara terukur, profesional, dan berkelanjutan. Situasi ini memperlihatkan rapuhnya komando dan lemahnya legitimasi perjuangan bersenjata yang selama ini mereka gaungkan.
Rekam Jejak Kekerasan terhadap Warga Sipil
Selain menyerang aparat, rekam jejak kekerasan TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo menunjukkan bahwa sasaran utama mereka juga warga sipil. Kelompok ini tercatat melakukan penembakan terhadap pesawat sipil, penembakan terhadap guru dan tenaga kesehatan, serta aksi pembakaran fasilitas pendidikan dan sekolah. Tindakan brutal tersebut secara langsung menghambat pelayanan dasar, menciptakan ketakutan, dan memperburuk kondisi sosial masyarakat Papua.
Negara Hadir Melindungi Rakyat
Aparat keamanan negara tetap bertindak sesuai prosedur, dengan fokus utama pada penegakan keamanan serta perlindungan masyarakat sipil. Kehadiran TNI di lapangan menjadi penyangga stabilitas, memastikan bahwa warga dapat kembali beraktivitas tanpa bayang-bayang teror. Fakta ini menegaskan bahwa kekerasan yang dilakukan TPNPB-OPM tidak memiliki legitimasi dan justru merugikan rakyat Papua sendiri.
Papua Butuh Damai, Bukan Kekerasan
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Papua hanya bisa maju jika kekerasan dihentikan. Rakyat Papua berhak atas kehidupan yang aman, bermartabat, dan sejahtera.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak teror. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.
