Ini Penyebab Konflik di Nduga Papua Pegunungan Pecah, Tiga Warga Tewas
JAYAPURA, POJOKINDO.com – Konflik antarkelompok warga pecah di Distrik Kenyam ibu kota Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan.Tiga warga sipil dilaporkan tewas dalam persitiwa ini.
Adapun korban bernama Marianus Gery (63), seorang pendeta di Gereja yang ada di Kawasan tersebut.Korban mengalami luka bacok di leher dan jari putus, dalam kondisi meninggal dunia.
Sementara, Abraham Runga (51) mengalami luka bacok di kepala juga dalam kondisi meninggal dunia saat dirawat di RSUD Nduga.
Saat ditelusuri kembali oleh aparat gabungan, satu orang lainnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.Polisi tengah meredam situasi dengan melakukan mediasi.
Konflik melibatkan dua kelompok masyarakat. Mereka saling serang di depan rumah Sekda Kabupaten Nduga pada Selasa (2/6/2024) pukul 11.45 WIT.
Konflik melibatkan kelompok Ikabus Gwijangge yang merupakan Ketua DPRD Kabupaten Nduga sekaligus Ketua DPC Partai Golkar dengan kelompok Tarni Wandikbo merupakan Caleg DPRD Kabupaten Nduga dari Partai PSI.
Kabid Humas Polda Papua Kombes Polisi Ignatius Benny Adi Prabowo mengungkapkan, pertikaian itu terjadi akibat buntut kesepakatan pembagian hak suara saat Pemilu 2024 yang menggunakan sistem noken.
“Berdasarkan catatan kepolisian, ada lima kali insiden seperti ini, yang dimulai tanggal 15 Februari,16 Februari, 4 Maret, 23 Maret dan 14 April 2024,” ujar Benny pada Senin (3/6/2024).
Pertikaian kedua pihak tersebut berulang pasca kematian seorang warga bernama Delius Gwijangge yang merupakan korban panah pada saat terjadi perang suku antara kelompok Geselema vs Ikabus Gwijangge dengan Tarni Wandikbo.
“Bentrok tersebut kembali terjadi karena masalah pembagian suara yang belum terselesaikan, dan yang ini merupakan kejadian ke tujuh kalinya,” ujar Benny.
Dari pertikaian tersebut ada korban jiwa yakni Lingganus Gwijangge yang merupakan korban dari pihak Ikabus Gwijangge.
“Korban terkena panah di bagian bahu sebelah kanan dan terdapat luka bacokan di bagian leher sebelah kanan yang menyebabkan korban meninggal di tempat,” ungkap Benny.
“Jenazah korban telah dibawa aparat gabungan TNI-Polri menuju kediaman Ikabus Gwijangge untuk dilakukan upacara adat,” sambungnya.
Kapolres Nduga AKBP VJ Parapaga mengaku, saat menangani pertikaian antar kelompok tersebut, pihaknya memberikan tindakan tegas terukur dengan menembakan gas air mata ke arah dua kelompok, serta mengimbau untuk segera membubarkan diri.
“Permasalahan kedua belah kelompok sebenarnya telah dinyatakan selesai Sabtu (6/4/2024) ditandai penandatanganan surat pernyataan dan perjanjian damai sehingga kejadian yang baru saja terjadi adalah karena ada yang belum mau menerimanya,” tuturnya.
Pasca pertikaian, personel gabungan melakukan patroli di sekitar lokasi kejadian guna mengantisipasi bentrokan susulan, serta melakukan pendekatan ke para tokoh di wilayah Kenyam untuk membantu meredam kedua kelompok tersebut dan mengantisipasi pertikaian susulan.

“Situasi saat ini terpantau aman dan kondusif, serta berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi,” umbar Parapaga.
Dua korban dievakuasi ke Timika
Proses evakuasi menggunakan 2 pesawat Smart Air PK-SNW dipiloti Kapten Irwan dan Smart Air PK-SNA dipiloti Kapten Rizky Bandara Kenyam menuju Bandara Mozes Kilangin Timika.
Korban bernama Marianus Gery (63) merupakan Pendeta, mengalami luka bacok dileher, jari putus hingga meninggal dunia.
Marianus Gery merupakan perantau asal Alor, Kupang, NTT yang kesehariannya sebagai pengurus gereja.
Lalu, Abraham Runga (51) mengalami luka bacok pada bagian kepala dan lemparan batu. Ia meninggal saat dalam penanganan medis.
Konflik melibatkan kelompok Ikabus Gwijangge yang merupakan Ketua DPRD Kabupaten Nduga sekaligus Ketua DPC Partai Golkar dengan kelompok Tarni Wandikbo merupakan Caleg DPRD Kabupaten Nduga dari Partai PSI. (ka)

