Menolak Kehadiran Korem di Muliama, Mahasiswa: Kehadiran Aparat Identik Dengan Teror dan Intimidasi Warga Sipil
JAYAPURA, POJOKINDO.com – Rencana pembangunan markas Korem di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, mendapat penolakan dari mahasiswa asal daerah setempat.
Mereka khawatir akan dampak keberadaan Korem terhadap dinamika politik dan keamanan yang berimbas pada masyarakat di masa mendatang.
Mahasiswa Jayawijaya Kota Studi Manokwari pun menolak tegas pembangunan Korem di wilayah Muliama Jayawijaya.Penolakan ini juga berlaku untuk rencana pembangunan pos keamanan lainnya, baik dari Polri atau satuan TNI lainnya.
Koordinator Aksi Penolakan Pembangunan Korem di Distrik Muliama, Umai Lengka mengatakan dirinya bersama para mahasiswa menilai tidak ada jamiman kenyamanan hidup bagi masyarakat apabila pembangunan Korem dilanjutkaan di Muliama.
“Muliama bukan tanah kosong, tetapi tanah milik masyarakat adat Muliama. Jadi Dandim 1702 Jayawijaya jangan memaksa masyarakat untuk membangun Korem karena kebanyakan masyarakat setempat menolak,” kata Umai Lengka secara tertulis, Selasa (9/4/2024).
Ia menyarankan Dandim Jayawijaya untuk mencari lahan lain di luar Muliama.Dengan harapan, tidak terjadi potensi konflik antara masyarakat adat dengan TNI di kemudian hari.
Umai memandang, keberadaan pos TNI dan Polri di beberapa wilayah Papua selama ini tidak menjamin kenyamanan dan ketenteraman hidup masyarakat.
“Itu realita. Yang ada hanya penyiksaan, penembakan, pemaksaan, perampasan lahan dan menimbulkan memoria passionis yang mendalam,” katanya.
Untuk itu, Umai meminta pemerintah segera menghentikan rencana pembangunan markas Korem di kampungnya.
“Karena tentu tidak akan ada kesejahteraan abadi bagi masyarakat adat Distrik Muliama,” pungkasnya. (ka)

