Saat Rakyat Jadi Korban Kekerasan TPNPB-OPM, Masihkah Ini Disebut Perjuangan Papua?

pojokindo.com– Papua — Sepanjang Januari hingga Maret 2026, sejumlah wilayah di Papua kembali diwarnai insiden kekerasan yang dikaitkan dengan kelompok bersenjata TPNPB-OPM. Berdasarkan laporan terbuka, sedikitnya lima warga sipil meninggal dunia dan dua orang mengalami luka-luka dalam sekitar sembilan insiden bersenjata yang tercatat pada awal tahun ini.
Rangkaian Kekerasan yang Menonjol
- Yahukimo → Penyerangan terhadap pekerja konstruksi sekolah menewaskan Daniel Datti.
- Papua Selatan → Serangan terhadap pesawat perintis Smart Air menewaskan pilot dan kopilot.
- Mimika → Penembakan kendaraan sipil menewaskan satu warga dan melukai satu lainnya.
- Yahukimo → Seorang sopir truk tangki air ditembak saat melintas di jalur antar distrik.
- Dekai → Seorang guru dilaporkan meninggal dunia akibat serangan di lingkungan sekolah.
Dampak bagi Masyarakat
- Rasa takut meluas di kalangan warga sipil.
- Aktivitas ekonomi, pendidikan, dan transportasi terganggu.
- Sebagian warga memilih mengungsi ke wilayah yang dianggap lebih aman.
Pertanyaan yang Muncul
- Klaim perjuangan kelompok bersenjata dinilai kontradiktif dengan kenyataan di lapangan.
- Warga sipil justru menjadi korban utama dari konflik yang terjadi.
- Harapan masyarakat Papua tetap sama: hidup aman, damai, dan terbebas dari kekerasan.
Papua Butuh Damai, Bukan Kekerasan
Peristiwa ini menegaskan bahwa masa depan Papua bergantung pada perlindungan masyarakat sipil, penghentian intimidasi, dan jaminan hak dasar rakyat untuk hidup aman.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena warganya terlindungi. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.
