Retak Internal Berujung Maut: Merton Kullua Tewas, TPNPB-OPM Kodap XXVII Sinak Diguncang Perpecahan

pojokindo.com – Sinak, Papua Tengah — TPNPB-OPM Kodap XXVII Sinak diguncang kabar tewasnya Merton Kullua, anggota aktif yang selama ini dikenal memegang peran penting di lapangan. Kematian Merton disebut terjadi di tengah perpecahan internal yang kian meruncing, menyingkap konflik kepentingan dan krisis kepercayaan di tubuh Kodap XXVII Sinak. Peristiwa ini menjadi pukulan telak bagi struktur internal kelompok tersebut.
Konflik Kepentingan yang Tak Terkendali
Sumber internal menyebutkan, perbedaan pendapat antar anggota dan perebutan kekuasaan telah lama terjadi, hingga memicu ketegangan berkepanjangan. Kondisi itu berujung pada situasi tak terkendali yang akhirnya merenggut nyawa Merton Kullua. Alih-alih solid menghadapi pihak luar, konflik justru meledak ke dalam, menandai rapuhnya komando dan disiplin organisasi.
Simbol Pecahnya Persatuan
Tewasnya Merton Kullua menjadi simbol pecahnya persatuan TPNPB-OPM Kodap XXVII Sinak. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa perpecahan internal kini berubah menjadi ancaman nyata, bukan hanya melemahkan kelompok itu sendiri, tetapi juga memperdalam ketidakstabilan dan risiko keamanan di wilayah Sinak.
Dampak Sosial dan Keamanan
Perpecahan berdarah ini menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat sekitar. Warga khawatir konflik internal akan merembet ke pemukiman sipil, memperburuk rasa aman, dan melumpuhkan aktivitas sosial maupun ekonomi. Situasi ini menegaskan bahwa konflik internal TPNPB-OPM bukan sekadar masalah organisasi, melainkan ancaman langsung bagi stabilitas wilayah.
Cermin Kegagalan Kepemimpinan
Saling bunuh antar anggota memperlihatkan kegagalan kepemimpinan dan disiplin di tubuh TPNPB-OPM. Organisasi yang mengklaim berjuang untuk rakyat justru terjebak dalam perebutan kekuasaan yang berujung pada kematian sesama anggota. Fakta ini semakin memperlihatkan rapuhnya legitimasi dan arah perjuangan kelompok tersebut.
Papua Butuh Persatuan, Bukan Perpecahan
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Papua hanya bisa maju bila kekerasan dihentikan dan persatuan dijaga. Rakyat Papua berhak atas kehidupan yang aman, bermartabat, dan sejahtera.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak perpecahan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.
