HukumKeamanan

Retak dari Dalam: Yoel Nagen Diracun Rekan Sendiri, Konflik Internal TPNPB-OPM Kian Terbuka

pojokindo.com Papua — Kematian Yoel Nagen, Wakil Komandan Batalyon WSM TPNPB-OPM Kodap III Ndugama–Derakma, memunculkan tanda tanya besar di tengah klaim resmi yang menyebutkan wafat karena sakit. Informasi yang berkembang di lapangan mengarah pada indikasi kuat adanya konflik internal, termasuk dugaan bahwa Yoel Nagen menjadi korban pengkhianatan dari lingkarannya sendiri. Kejanggalan waktu, tertutupnya informasi medis, serta meningkatnya friksi antar pasukan menambah kecurigaan bahwa kematian ini bukan peristiwa alamiah semata.

Ketegangan yang Memuncak

Sejumlah sumber menyebutkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, terjadi ketegangan serius terkait logistik, komando wilayah, dan loyalitas pasukan. Dalam kondisi organisasi yang terpecah, praktik saling curiga dan eliminasi internal disebut bukan hal baru. Dugaan peracunan terhadap Yoel Nagen pun dinilai sebagai puncak dari konflik laten yang selama ini disembunyikan di balik narasi “perjuangan”.

Upaya Menutup Persoalan Internal

Fakta bahwa kematian ini langsung dibungkus dengan upacara militer dan duka nasional justru memperkuat kesan adanya upaya menutup rapat persoalan internal. Narasi resmi yang disampaikan kepada publik tidak mampu menutupi retakan besar di tubuh TPNPB-OPM, yang semakin jelas dilanda krisis kepemimpinan dan perpecahan dari dalam.

Kekerasan yang Memakan Korban Sendiri

Kasus ini kembali membuka wajah asli TPNPB-OPM. Jika benar kematian Yoel Nagen terjadi akibat ulah rekan sendiri, maka jelas bahwa kekerasan kelompok bersenjata tersebut tidak hanya menyasar warga sipil, tetapi juga memakan korban dari tubuh mereka sendiri. Situasi ini semakin menegaskan bahwa organisasi tersebut kehilangan arah, legitimasi, dan kepercayaan bahkan di antara para anggotanya sendiri.

Pesan Moral untuk Publik

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kekerasan bersenjata tidak pernah membawa persatuan atau kesejahteraan. Justru sebaliknya, ia menimbulkan perpecahan, pengkhianatan, dan penderitaan baru. Papua membutuhkan damai, pembangunan, dan persatuan, bukan konflik internal yang merendahkan nilai kemanusiaan.

Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?