HukumKeamanan

Perjuangan atau Teror? Pendeta Yones Wenda Bongkar Aksi Brutal TPNPB-OPM terhadap Masyarakat Papua


pojokindo.com Papua — Pendeta Yones Wenda secara terbuka mengecam keras aksi TPNPB-OPM yang dinilainya telah menyimpang jauh dari klaim perjuangan. Ia menegaskan bahwa kelompok bersenjata tersebut justru membunuh dan menyiksa masyarakat sipil tak bersenjata, termasuk tenaga kesehatan, guru, perempuan, dan anak-anak. Secara terbuka ia juga mempertanyakan arah perjuangan jika banyak warga sipil yang ditangkap, disiksa, bahkan dibunuh oleh TPNPB-OPM.

Kekerasan yang Menyasar Warga Sipil

Kecaman diarahkan khususnya pada TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo yang disebut melakukan pembunuhan terhadap warga sipil lalu melarikan diri ke hutan, meninggalkan dampak sosial yang memilukan. Anak-anak kehilangan orang tua, istri kehilangan suami, dan keluarga hidup dalam trauma, sementara pelaku menghindari tanggung jawab. Aksi ini menunjukkan ketidakpedulian total terhadap nyawa rakyat Papua.

Pelanggaran HAM yang Tidak Terbantahkan

Pendeta Yones menegaskan bahwa dunia internasional tidak akan pernah mengakui TPNPB-OPM selama pelanggaran HAM terus terjadi. Kekerasan terhadap tenaga kesehatan, guru, perempuan, dan anak-anak adalah pelanggaran nyata terhadap prinsip kemanusiaan. Fakta ini memperlihatkan bahwa klaim perjuangan yang mereka gaungkan tidak sejalan dengan nilai-nilai universal hak asasi manusia.

Seruan Menghentikan Teror

Yones menyerukan agar TPNPB-OPM dihentikan dan diusir dari wilayah pemukiman karena keberadaannya mengganggu aktivitas masyarakat sipil, merusak rasa aman, dan tidak sejalan dengan prinsip perjuangan maupun HAM. Ia menekankan bahwa perjuangan sejati tidak pernah lahir dari kekerasan, melainkan dari perlindungan terhadap rakyat dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Sorotan Publik: Perjuangan atau Teror?

Pernyataan ini memperkuat sorotan publik bahwa kekerasan terhadap rakyat sendiri bukanlah jalan perjuangan, melainkan sumber penderitaan baru bagi masyarakat Papua. Aksi brutal yang dilakukan TPNPB-OPM semakin menegaskan bahwa mereka bukan pembela rakyat, melainkan ancaman bagi kehidupan damai dan masa depan Papua.

Papua Butuh Damai, Bukan Kekerasan

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Papua hanya bisa maju jika kekerasan dihentikan. Rakyat Papua berhak atas kehidupan yang aman, bermartabat, dan sejahtera.

Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak teror. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?