Keamanan

Dicurigai!!! Seorang Fotografer Asal Rusia Ditangkap Satgas 753 di Paniai

PANIAI, POJOKINDO.com – Seorang fotografer asal Rusia ditangkap aparat keamanan (Apkam) dari kesatuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Enarotali, distrik Paniai Timur, kabupaten Paniai, Papua Tengah, Senin (11/3/2024).

Fotografer tersebut ditangkap tepat di pertigaan jalan raya pasar Enarotali, saat sedang memotret aktivitas masyarakat di pasar tersebut sekitar jam 10.00 pagi.

Tidak terima fotografer ditangkap, banyak orang di sekitaran yang lihat saat itu marah. Seperti salah satunya, Yuvin Mote, rekan karibnya.

“Setelah tahu dan tidak terima entah karena rasa terganggu apa lihat teman saya ini ambil gambar masyarakat yang lagi beraktivitas di pasar, anggota TNI langsung bergerak cepat datang larang, tangkap dan bawa dia ke markas mereka,” kata Yulvin Mote, Rabu (13/3/2024).

Menurutnya, si bule ditangkap apkam gabungan dari dua kesatuan yang bermarkas di bekas gedung GOR Uwata Wogi Yogi, dan Timsus TNI 753/Arvita Enarotali.

Yulvin katakan rekannya berstatus fotografer khusus budaya, bukan wartawan atau aktivis HAM dari lembaga independen internasional seperti selama ini selalu ditakutkan negara berkunjung ke Tanah Papua.

“Dia teman saya. Saya tahu betul dia punya pekerjaan itu fotografer khususnya yang menyangkut dengan budaya saja. Tidak lebih. Jadi, tujuan dia ke Paniai ini mau rekam aktivitas agama budaya kita suku Mee yang masih ada sampai sekarang, yaitu agama ‘Bunaanii’ dari dekat. Itu setelah saya diskusi banyak sebelumnya dengan dia tentang agama budaya kita ini. Kemudian karena dia tertarik, jadi ada datang ke Paniai,” jelasnya.

Sedangkan tujuan rekannya mengambil gambar di pasar, imbuh Yulvin, hanya mau mengabadikan sebagai kenangan pribadi pernah berkunjung ke Paniai.

“Sekarang salahnya dimana? Apakah karena dia bule, sehingga itu membuat terganggu? Sementara tujuan dia sendiri ke Paniai jelas,” ujarnya agak kesal.

Bukan hanya penangkapan sewenang-wenang, menurut Yulvin, negara melalui alat kekuasaan terus menerus membungkam segala akses informasi apapun tentang tanah dan orang Papua ke luar.

“Misalkan dia wartawan atau aktivis pun, kenapa negara harus takut dan larang? Heran sekali, setiap bule yang mau datang atau sudah di Papua selalu dibatasi dan aktivitas mereka dipantau ketat pakai alasan demi keamanan negara. Negara stop! Budaya kita suku Mee [dan semua suku bangsa di Papua] perlu dilestarikan supaya kelak bisa dikenang anak cucu,” tegasnya.

Terkait penangkapan rekannya, Yulvin katakan, setelah ditangkap dan diperiksa beberapa jam kemudian dibebaskan.

“Sudah dilepas, cuma dia punya tangkai [tripod] dan kamera masih ditahan,” imbuh Yulvin.

Terpisah, Yakobus Bunai, salah satu tokoh adat dan budaya Paniai di Enarotali, Rabu (13/3/2024), ikut kecam penangkapan terhadap fotografer bule tersebut.

“Bapak tidak bisa bicara kalau masalah Papua merdeka baru bule itu ditangkap. Tetapi sesuai dengan informasi yang bapak dengar, dia datang untuk ambil foto atau video budaya suku Mee, ini bapak paling tidak suka ada penangkapan begitu. Anak-anak tentara salah. Kenapa mau larang? Kita punya budaya agama ‘Bunaanii’ itu orang luar banyak yang belum tahu,” kata Bunai.(ka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?