BudayaSosial

Dinkes Jayapura: Kasus HIV/AIDS Didominasi Usia Produktif Lewat Penyakit IMS

SENTANI, POJOKINDO.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura menyebutkan kasus HIV/AIDS di wilayahnya didominasi oleh usia produktif lewat penyakit Infeksi Menular Seksual  (IMS). Kasus HIV/AIDS juga berada di urutan pertama penyebab kematian di Kabupaten Jayapura.

Sekertaris Dinas Kabupaten Jayapura, Edward Sitohang mengatakan bahwa kasus HIV/AIDS didenominasi usia produktif 18-59 tahun, dengan komposisi laki-laki atau perempuan tidak terlalu signifikan.

“Kita temukan angkanya HIV 100-200 orang per tahun sehingga menuju kepada penyakit AIDS. Karena menyerang usia produktif jadi dikhawatirkan kita bisa banyak kehilangan generasi yang bisa lebih baik untuk memilki kemapuan hidup yang produktif,” ujarnya, ketika ditemui di ruang kerjanya di Gunung Merah, Sentani,  Jumat (2/2/2024).

Edward mengungkapkan kasus HIV/AIDS di tahun 2022 sebanyak 1.987, ditahun 2023 sebanyak 614 orang, kasus meninggal dunia akibat HIV/AIDS sebanyak 342 orang di 2022 sementara kasus lama dan baru sebanyak 4.000an orang dengan HIV. 

“Tahun 2023 kemarin kita masih mengumpulkan data karena yang sudah dapat data adala pelayanan pasien dengan HIV/AIDS di Desember adalah 62 persen. Jadi memang kondisinya masih cukup tinggi. Karena penyabab kematian di Kabupaten Jayapura HIV uruatan 1 karena itu kita memang sangat concern. Kalau total pasien HIV lama dan baru diatas 4.000an lama sejak ditemukan pertama kali,” ujarnya.

Menurutnya, Dinas Kesehatan telah melakukan berbagai upaya untuk menekan melonjaknya kasus seperti di puskesmas adalah melakukan penemuan kasus dengan cepat.

“Kalau pintunya IMS, ditemukan di pasien yang berobat kami dorong pemeriksaan lebih dini status HIVnya. Ibu hamil juga wajib, kalau sudah ditemukan kami edukasi secara individu.”

“Kalau minum obat teratur akan produktivitas juga bagus, jadi kami mendorong mereka supaya minum obat, kita tekan supaya jangan ada pasien baru karena obatnya cukup mahal, obatanya juga dikirim langsung dari pemerintah pusat,” jelasnya.

Pihaknya menemukan berbagai kendala yakni, banyak pasien orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tidak dapat meminum obat secara teratur karena tidak mendapatkan dukungan dari lingkungan sosial mereka.

ODHA juga mengalami diskriminasi sehingga tidak berani menujukkan diri bahwa sedang sakit.

“Ada beberapa daerah yang ditemui, ada yang diusir, diancam. Penyakit ini harus mendapat dukungan dari masyarakat terutama keluarga,” jelasnya. (ka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?